Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi,
masyarakat justru seakan akan lupa dengan cikal bakal diri kita sendiri. Mereka hampir tak berfikir tentang dari mana kita namun justru berorientasi
kemana kita. Dan banyak diantara mereka
berpendapat masa lalu hanyalah kenangan.
Prinsip – prinsip itulah yang akhirnya melupakan siapa kita,
sejarah kita, rumah kita dahulu, baju kita dahulu kala. Mungkin di lain tempat tak semua orang memilik
pakaian adat. Dan tak semua orang
memakai pakaian adat. Mungkin sesekali mereka memakainya karena adanya acara
hajatan itupun pakaian yang mereka kenakan bukan milik pribadi namun milik
persewaan pakaian adat. Dan lambat laut,
anak cucu kita tak akan pernah tahu, apa itu pakaian adat.
Demikian tak terjadi di kota Istimewa, Yogyakarta. Yang mana
setiap Kamis paing, hari yang dipilih oleh pemerintah kota yogya untuk para
warga baik laki – laki atau perempuan baik pekerja maupun pelajar, diwajibkan untuk memakai pakaian jawa. Surjan, blangkon untuk kaum pria dan kebaya
untuk kaum wanita. Sehingga mewajibkan
para pelajar ataupun pekerja untuk memilikinya.
Dan ketika saya bertandang di sebuah SMP Negeri 3 Yogyakarta, yang kebetulan tak jauh
tempatnya dengan kraton Yogya. Saya
terharu ketika tanpa sengaja terlihat di mata saya, seorang siswa menyalami
sang guru, namun karena sang guru
melihat anak didiknya memakai blangkon kurang sempurna, maka sang gurupun
membenahinya dengan rasa penuh kasih sayang. Lalu sang murid mencium tangan
kanan sang guru tersebut. Sungguh luar
biasa .
Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA di Sragen, Jawa
Tengah, saya pernah berfikir ... “jika para sesepuh meninggal, siapa lagi
yang akan menggunakan surjan, blangkon, kebaya dan siapa juga yang akan
menggunakan bahasa jawa kromo inggil dalam acara – acara budaya”. Namun begitu saya meninggalkan kota itu,
untuk melanjutkan study dan menetap di sini. Pikiran – pikiran yang pernah
mengisi ruang batin saya ketika itu, terjawab sudah.
Kitalah yang harus melestarikan warisan budaya itu, jangan
sampai anak cucu kita tidak mengenal
asal muasal kita. Dan jika banyak
para warga asing yang tertarik dan belajar tentang budaya di sini, lalu untuk apa kehidupan sosial kita menyamakan bahkan menganggap diri
kita kurang pergaulan jika kehidupan
kita tak seperti orang –orang luar negeri.
Mari Yogya, agar selalu istimewa ....
Sekilas ulasan bahwa
Surjan itu adalah pakaian adat kerajaan Mataram yang pada awalnya didesign
khusus oleh Sunan Kaliojogo. Untuk
pakaian khas kerajaan Mataram. Namun konon sejarah berkata jika kerajaan
Mataram pecah terbagi menjadi dua, yaitu kerajaan Ngayogyakarto (Yogyakarta) dan kerajaan Surakarto
(Surakarta yang sekarang lebih dikenal Solo). Dalam pembagian aset kerajaan pakaian kerajaan
yang bernama Surjan jatuh ke tangan kerajaan Ngayogyakarto. Dan akhirnya
agar tidak terjadi pertengkaran saudara maka kerajaan Surakarta
menciptakan pakaian adat sendiri yang di design oleh Belanda, yang secara keseluruhan hampir mirip dengan
surjan namun ada bagian – bagian tertentu yang berbeda, begitu juga dengan
bahan kain dalam pakaian kerajaan tersebut. Dan Beskap nama dari pakaian adat kerajaan
Surakarta. Yang beskap itu sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu beschaafd.